Keyword
SEGENAP KELUARGA BESAR SMA NEGERI 15 SEMARANG MENGUCAPKAN ...*** SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA***....
MINGGU, 19 AGUSTUS 2018
Artikel
Youth Moslem Leader Forum
Ditulis tanggal : 20 - 07 - 2018 | Pukul :

Semarang, Dalam rangka tindak lanjut program sekolah damai, Wahid Foundation kembali gelar acara yang bertemakan “Youth Moslem Leader Forum” yang melibatkan para Rohis di Jawa Tengah, termasuk didalamnya ada tiga delegasi Rohis SMAN 15 Semarang, Akhmad Zakaria, Ferdian Hikmal Saputra dan Anisya Maulidya yang didampingi oleh Guru Agama Islam, Nanang Qosim. Acara tersebut diselenggarakan di Hotel Oak Tree Papandayan, Gajahmada, Semarang selama tiga hari, (29,30 Nuni, 1 Juli 2018).

Project Officer Riset Kebijakan dan Advokasi, Siti Kholisoh mengatakan, bahwa acara ini mempunyai tujuan yaitu, pertama, untuk menumbuhkan damai di kelas, kedua damai di lingkungan sekolah dengan adanya kebijakan kepala sekolah melalui Rencana Kerja Kepala Sekolah (RKKS) ada semacam program sekolah damai yang tertuang didalamnya, dan yang ketiga, menggerakkan rohis untuk terlibat dalam upaya perdamaian di sekolah.

“Bertemu dan berkumpul dalam acara Youth Moslem Leader Forum adalah rangkaian program Wahid Foundation terkait nilai-nilai perdamaian di sekolah. Tujuanya adalah memperkuat nilai damai di sekoah,” tambahnya.

Latar belakang dari program ini, pertama kasus bom. Kita tahu banyak kasus yang mengatasnamakan agama. Seperti yang digambarkan atas insiden di Surabaya. Kedua, Wahid Foundation tidak hanya sendirian, tapi juga ada yang lain yang misinya sama. Salah satunya sekolah dan rohis.

“Kenapa rohis, karena keterkaitan rohis dalam konteks ini adalah rohis dipersepsikan orang yang cerdas yang nantinya akan menjadi pemimpin. Sehingga perangkat pengetahuan harus disiapkan hari ini. Semuanya ada dipundak mereka. Semuanya yang dikirim dalam acara Youth Moslem Leader Forum adalah pilihan sekolah dan menonjol menurut bapak ibu guru pendamping yang mempunyai kontribusi untuk perdamaian di sekolah,” tegasnya,

Senior Officer Capacity Building Wahid Foundation, Hafizen, mengatakan, bahwa acara Youth Moslem Leader Forum selama tiga hari tersebut para Rohis akan uzlah. Kenapa Rasulullah dulu uzlah, karena banyak peperangan yang terjadi pada saat itu karena pada saat itu tidak ada Facebook dan Instagram, dan lain lain. Yang ada uzlah. Nabi uzlah dan ada murabbinya pada saat itu adalah Jibril. Tapi murabbinya untuk anak rohis sekarang bukan Jibril secara langsung, tapi mereka yang memiliki ilmu sebagaimana sabda nabi Muhammad, bahwa ulama adalah pawa pewaris nabi, artinya, mereka belajar apa yang telah diwariskan dari nabi.

“Kegiatan ini salah satunya adalah melakukan perubahan di sekolah masing-masing. Itulah kira-kira semangat kita. Tentu menyita waktu. Saya berbicara spiritnya saja. Pasca ini akan melakukan perubahan. Kalau tidak ada perubahan maka gagal. Oleh karena itu mari kuatkan perdamaian,” tambahnya

Sekertaris Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Nasional, Budiman, mengatakan bahwa Daeri empat provinsi di Indonesia, kita ini di Jawa Tengah pilihan. Target kita adalah budaya damai. Kita harus menyebarkan kedamaian. Minimal pada saat kita bertemu kita mengucapkan salam. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

“Damai harus membumi. Kita budayakan dari lingkungan sekolah, enam, sepuluh tahun ke depan, yang akan mengendalikan adalah kalian semua, khususnya kalian yang tergabung di Rohis,” tegasnya.

Kalau generasinya tidak bergantengan tangan bagaimana yang terjadi dengan nasib bangsa kita ini. Budaya damai tidak bisa dijalankan sendiri, Wahid Foundation, AGPAI, Sekolah, Rohis harus bekerjsama semuanya.

Pada malam terakhir, peserta Rohis nobar (nonton bareng) film “Jihad Selfie”. Film ini mengangkat cerita tentang pola baru perekrutan pejuang ISIS dengan sasaran remaja belasan tahun melalui media sosial. Berbeda dengan pola lama, di mana individu lebih dulu bergabung dengan kelompok kekerasan kemudian melakukan aksi terorisme, pola baru ini melibatkan peran internet dan media sosial.

Individu, terutama remaja, mengakses internet dan mengetahui peristiwa konflik Timur Tengah, kemudian menjalin komunikasi dengan jaringan pelaku sebelum akhirnya terlibat dalam aksi kekerasan, seperti bom bunuh diri. Media sosial telah mengubah pendukung pasif menjadi pendukung aktif.

Menurut salah satu Murabbinya, Alumnus Studi Peace, Trauma and Religion Vrije Universiteit Amsterdam dan Anggota PCINU Belanda, Dito Alif Pratama, Film dokumenter ini layak ditonton, terutama bagi mereka yang selama ini belum percaya bahwa ancaman ISIS paling nyata adalah hilangnya generasi-gerasi muda karena termakan propaganda daulah Islamiyah.

Adapun khusus guru agama atau pendamping anak diberikan materi, salah satu materi yang disampaikan adalah bagaimana cara menulis konteks umum, focus perubahan, kondisi sebelum perubahan, proses perubahan, kondisis setelah terjadinya peruabahan.

Demikian laporan singkat saya, yang kebetulan diberi amanah untuk menjadi Guru Agama Islam, dan sekaligus pendamping peserta Rohis SMA N 15 yang mengikuti acara Youth Moslem Leader Forum. Secara pribadi saya mengucapkan terimakasih kepada Wahid Foundation, AGPAI, sekolah (Kepala Sekolah), guru agama di sekolah, dan seluruh warga sekolah, Rohis. Pesan saya, mari bersama-sama kita tebarkan kedamaian. Perkuat keberagamaan (ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan kita masing-masing ) dan jaga-rawat ruwat keberagaman sesama diantara kita yang lahir di negeri tercinta ini.



(Lap. Nanang Qosim)