Keyword
SEGENAP KELUARGA BESAR SMA NEGERI 15 SEMARANG MENGUCAPKAN ...*** SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA***....
MINGGU, 23 SEPTEMBER 2018
Artikel
Refleksi Basuh Kaki Ibu
Ditulis tanggal : 04 - 05 - 2018 | Pukul :

Refleksi Basuh Kaki Ibu
oleh:
Soleh Amin, S.Pd.,M.Pd
Kepala Sekolah SMA Negeri 15 Semarang

Menjelang Ujian Nasional Berbasis Kompter (UNBK) kemarin, ada suasana menarik dan boleh dikata di tingkat SMA Kota Semarang, baru di sekolah yang penulis pimpin. Ratusan siswa menangis saat membasuh, mencuci kaki ibu di teras depan kelas masing-masing. Banyak media memberitakan dengan judul “Haru, Siswa Siswi SMA 15 Semarang Mencuci Kaki Orang Tuanya Jelang UNBK,” (Tribun Jateng, 5 April 2018)

Mereka duduk bersimpuh mencuci kaki ibu menggunakan air kembang dalam baskom. Setelah itu si anak mengelap menggunakan handuk dan menaruh kaki orangtuanya di atas dingklik.

Para ibu anak-anak juga tak kuasa menahan air mata. Sebagian menangis sesenggukan sambil memegangi kepala si anak. Pada saat itulah, kesempatan meminta maaf pada orang tua terjadi.

Air bunga bermakna harum suci adalah persembahan anak yang terbaik untuk orang tua. Sesungghnya kegiatan mulia membasuh kaki ibu dengan air bertabur bunga, menunjukkan begitu mulianya derajat orangtua kita. Ridha Allah tergantung ridha kedua orangtua.

Pengorbanan orang tua yang besar selama ini, semua ingat dalam momen beberapa menit. Sekaligus meminta doa restu orang tua, dan semoga anak-anak lancar dalam melaksanakan UNBK dan meraih hasil terbaik. Bisa diterima di perguruan tinggi yang diinginkan.

Kalau ditarik dalam narasi budaya Jawa dalam prosesi penganti. Istri basuk kaki suami. Itulah simbol ketaatn dan pelayanan kepada suami. Begitu dengan anak, simbol ketaatan anak kepada sang ibu (orang tua)

Maka sesungguhnya ritual basuk kaki ibu tidak lain untuk meminta restu dan doa kepada orangtua. Supaya diberi kemudahan dan keberhasilan dalam melaksanakan UNBK.

Refleksi

Ritual basuh kaki ibu menjelaskan dan menegaskan kepada kita semua, bahwa tidak ada anak yang sukses tanpa peran orang tua. Sebaliknya, kebahagiaan orang tua tak akan lengkap tanpa kesuksesan anak. Di belakang anak yang hebat, terdapat pula orang tua yang hebat. Maka, tak ada pilihan kecuali berbakti kepada kedua orang tua dengan cara merawatnya dan mengapresiasi jerih payah perjuangan mereka.

Ibu adalah orang yang paling pertama menanti hadirnya kita walau masih dalam angan-angannya. Lalu saat ia menemukan pasangan hidupnya, seorang Ibu akan menanti kehamilan, buah dari impiannya menanti kita.

Apapun jalan akan ia tempuh, agar kita yang masih dalam kandungannya dapat tumbuh, apapun akan ia jalani agar kita yang masih dalam perutnya tetap nyaman, seberat apapun akan ia pikul, lama waktu menanti ia atasi dengan kesabaran dan keteguhan hati bahkan rasa mual, mulas dan sakit yang kita timbulkan tidak membuatnya berkeluh kesah apalagi marah, rasa lapar yang ia derita ia tanggung, karena ia tahu benar bahwa kita sedang menyesuaikan diri di dalam perutnya yang semakin lama semakin membesar.

Dalam kehamilannya yang semakin berat, setiap saat ibu selalu mengelus kita, dalam kehamilannya yang membuatnya susah bergerak, Ibu berdoa kepada Allah agar kita tumbuh menjadi anak yang sehat. Ia akan sangat mengkhawatirkan¬nya manakala kita di dalam rahimnya tidak bergerak-gerak.

Dan ketika tiba waktunya, ia mempertaruhkan segalanya; tenaganya yang terkuras, rasa sakit yang menyayat, darah yang tumpah dan airmatanya yang membanjiri kehadiran kita di dunia, bahkan nyawa ia pertaruhkan demi kehadiran kita di muka bumi. Anehnya, manakala kita telah terdengar berteriak di alam dunia, di alam yang baru kita rasakan, Ibu justru tersenyum, tertawa bahagia, melupakan semua yang telah ia alami, melupakan sama sekali bahwa kehadiran kita nyaris membuat nyawanya hilang melayang. Kehadiran kitalah yang membuatnya seolah dunia dan segala isinya bahkan dirinya sendiri tidak berarti baginya.

Hari-hari berikutnya, kita anaknya menjadi buah bibirnya, ia akan sangat bangga menceritakan apa saja yang kita lakukan, ya apa saja. Bahkan ketika kita membangunkannya ditengah lelap tidurnya dengan tangisan. Menceritakan, rakusnya kita meminum air susunya hingga kering. Lalu, saat kita menyebut satu kata mama atau papa…Ibu dengan sangat bangga menyampaikan kabar gembira itu pada semua orang, seolah kitalah yang paling pandai bicara….

Ibu, menjaga, merawat, membimbing, menuntun, menyuapi, memandikan, memberikan segala yang kita butuhkan agar kita dapat terus tumbuh menjadi anak yang sehat. Mengerjakan semua hal agar kita dapat terus berkembang tanpa kenal lelah. Menjadi pembantu yang tidak pernah kita gaji, menjadi guru yang tidak pernah kita akui, menjadi pembimbing yang tidak pernah kita sadari. Menjadi penuntun yang kadang kita perlakukan tidak santun.

Saat kita memasuki usia sekolah, Ibulah yang paling sibuk menyiapkan segala kebutuhan sekolah kita, seolah dialah yang hendak bersekolah. Ibu menyiapkan dari mulai baju dan sepatu hingga memperhatikan makan dan minum kita. Ketika pulang sekolah, saat kita melempar baju kotor yang seharian kita pakai, Ibulah yang memungutinya dan mencucinya hingga bersih agar besok kita dapat mengotorinya kembali.

Ibu, tak akan pernah melewatkan sedikitpun ingatannya pada anaknya bahkan saat kenduri yang ia hadiri. Makanan yang seharusnya Ibu nikmati, akhirnya tak pernah ia sentuh karena ingatannya kepada kita, pada anaknya. Baginya kenikmatan makan akan lebih terasa justeru ketika anaknya makan makanan yang enak, maka walau sedikit malu, ia akan membungkus makanan itu untuk kita, sayangnya kadang makanan yang ia bawa itu kita buang percuma ditempat sampah.

Demi kesuksesan kita, ia rela berpeluh keringat, demi kita, ibu rela menanggung malu dan demi kita anaknya, ia akan dengan senang hati menanggung hutang dan beratnya beban kehidupan. Bahkan ibu menjadi perisai hidup bagi kita manakala jiwa sang anak terancam, oleh siapa saja termasuk suaminya sendiri, bapak dari anaknya.

Alhasil, jika ditanya, tahukah orang paling berjasa dalam merawat, mendidik, serta mencukupi kebutuhan hidup Anda dari kecil hingga dewasa? Tahukah orang yang (sebenarnya) paling hebat di balik "kehebatan" Anda? Sudah pasti, jawabannya adalah orang tua, terutama ibu. Mereka selalu ingat di mana pun kita berada. Apakah kita sebagai anak selalu ingat keberadaan …