Keyword
SELAMAT DATANG PESERTA DIDIK KELAS X TAHUN PELAJARAN 2017/ 2018.....TEKUN BELAJAR, BAIK DALAM SIKAP DAN PEDULI LINGKUNGAN
KAMIS, 23 NOVEMBER 2017
Artikel
Belajar dari Bu Rochmah,Tidak Mudahnya Menjadi Ibu
Ditulis tanggal : 03 - 10 - 2017 | Pukul :



Dra. Hj. Rochmah, bisa dikatakan sebagai guru yang inspiratif, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari beliau, terutama dalam langkah kakinya, dan hanyunan tanganya yang selalu bergerak ke masjid sekolah yang jarang dimiliki oleh banyak guru yang sama-sama berjuang mencerdaskan kehidupan anak bangsa. Namun prinsip, “lebih baik mengaku banyak dosa dari pada mengakui diri ini sebagai orang yang terbaik, dan dijamin pasti masuk surga.” Itulah yang mungkin membuat beliau dekat dengan masjid, rutin sholat sunnah, terutama sholat dhuha di masjid sekolah pada sela-sela jam kosong dan selalu ikut sholat dhuhur berjamaah di sekolah, pada jam istirahat kedua.

Siapapun guru, semuanya baik, untuk hal ini uraian langkah dan napak tilas beliau yang saya rekam, meskipun tidak banyak yang saya uraikan di sini. Karena dibagian akhir, saya akan lebih mengulas tidak mudahnya menjadi ibu itu.

Saya menulis ini bukan atas pesanan dari yang bersangkutan, melainkan untuk merekam sejarah bahwa ada seorang guru yang inspiratif dan penuh dengan hikmah dalam hidupnya yang bisa dapat saya ambil, semangat ibadah yang tiada putus. Sekaligus hanya mengingatkan diri ini, bahwa ada guru biologi yang sangat religius, menguatkan prinsip integrasi sains dan agama yang tidak ada pemisahan antar keduanya bahkan saling menguatkan sehingga disiplin keilmuanya tidak diragukan lagi.

Pada hari Jumat kemarin (29/09/2017), Bu Rochmah yang memiliki NIP. 195709031986022002, beralamat tinggal di Parangsarpo I/ 30 Tlogosari – Semarang pamitan purna tugas sebagai pegawai negeri sipil, kepada bapak ibu guru.

Sengaja saya transkip sambutan beliau sekaligus sambutan kepala sekolah, saat pamitan di depan bapak ibu guru di ruang guru, karena ini sejarah yang penting karena suasana pamitan pada waktu itu ada sebagian bapak ibu guru yang terharu, terutama bu Rochmah sendiri.

Acara dibuka langsung oleh kepala sekolah, beliau langsung mempersilahkan Bu Rochmah untuk ngendiko (sambutan), berikut yang disampaikan bu Rohmah;

“Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Subhanahu Wata’ala yang senantiasa memberikan kita kesehatan dan keselamatan, semoga rahmat dan taufiqNya selalu terlimpahkan untuk kita semua, yang kami hormati bapak Soleh Amin dan bapak ibu yang kami hormati, bahwa sesuai SK yang kami terima, berdasarkan SK yang saya terima 1 Oktober 2017 saya sudah dinyatakan purna, alhamdulillah wasyukrillah, saya dalam keadaan sehat. Untuk itu saya mengucapkan banyak terimakasih, yang mana telah membantu dalam pelaksanaan tugas pokok, kedua saya mohon maaf setulus-tulusnya kepada bapak ibu, yang saya hormati. Pada bapak ibu semuanya mohon setulusnya, jika saya pernah berbuat salah, kami mohon setulusnya untuk dimaafkan, dan mohon doanya dalam lindungan Tuhan yang Maha Esa, dan jangan putus silaturrahmi, saya selalu doakan kepada SMA 15 semoga bapak ibu guru dapat membawa nama harum SMA 15 Semarang, sekali lagi mohon maaf kepada bapak ibu guru, terimakasih Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Setelah usai apa yang disampaikan oleh bu Rochmah, kepala sekolah kemudian memberikan sambutan, berikut yang beliau sampaikan;

“Tentu kita semua meneledani apa yang sudah beliau lakukan, masih diberi keselamatan, semoga beliau diberi kesehatan dan kebahagiaan, dan kita semua, dan kita semua bisa berdoa, bisa melanjutkan dan membawa kemajuan SMA 15 semarang. Dan tidak terputus sampai kapanpun, beliau bagian keluarga besar SMA 15 semarang, kami harap masih rawuh saat upacara, dapat ngendiko di depan anak-anak. Lega banyak yang tahu, juga bahwa tahu, bahwa guru biologi ada yang mengakhiri tugas, kita semua memaafakan bu Rahma, apabila tutur kita, baik disengaja atau tidak, menyakit berbuat dosa kepada bu rahmah, juga dimaafkan bu Rohmah.”

Begitulah narasi pendek, pada saat penulis mengikuti dan menulis apa yang disampaikan pada saat itu, tidak ditambah dan dikurangi transkip tersebut di atas,

Tidak Mudahnya Menjadi Ibu

Kalau mendengar kata ibu, ingatan kita akan tertuju pada sosok agung seorang perempuan yang siap menanggung risiko besar dalam rentang perjuangan hidup yang sangat berat dan panjang. Ibu dapat diumpamakan sebagai banyak benda. Ia kita jadikan sebagai rumah dan sekolah pertama yang terkait dengan silabus pengenalan kehidupan tentang segala hal di dunia.

Ibu dapat kita jadikan sebagai pelabuhan yang mampu menampung tumpangan keluh kesah. Ibu dapat kita jadikan sebagai malaikat yang siap membentangkan sayap kasihnya kepada anak-anaknya.

Ibu layaknya rangkaian kereta yang dengan tertib mau menjemput dan mengantar anak-anaknya ke stasiun tujuan hidup. Berjuta kesan keagungan lain yang tiada habisnya untuk ibu.

Kalau makna ibu sedemikian mulianya, pantaslah jika banyak anak-anak mereka yang berhasil. Jika ibu begitu agung maknanya, pantaslah banyak anak-anak yang menaruh hormat kepadanya. Namun, kondisi paradoks pun tidak dapat kita abaikan. Jika ibu menempati tempat terhormat, lalu mengapa masih banyak anak-anak yang bertumbuh-kembang di tempat yang hina?

Jika ibu menempati derajat keutamaan, mengapa masih ada anak-anak yang tertinggal? Jika Ibu disebut-sebut di ujung lidah seorang nabi, lalu mengapa masih ada anak-anak yang kurang beruntung dan mati merana? Mengapa?

Kita dapat mengingat kembali video curhat Marshanda. Marshanda hidup dalam arus pekerja stripping sejak kecil. Ia kehilangan momen untuk tumbuh sebagai anak yang dapat menyelami dunia anak-anak. Simak kisah pelarian Arumi Bachsin yang bercuap-cuap di layar kaca menyampaikan kehidupannya sebagai burung dalam sangkar emas.

Simak konflik anak-anak Ayu Azhari, yang terpaksa mengadukan orang tuanya sendiri kepada polisi. Simak pula kasus larinya seorang artis sinetron cilik yang cantik jelita dan memutuskan tidak mau kembali kepada ibu kandungnya. Simak pula kisah anak-anak lain yang dengan mudah berputus asa dan memutuskan untuk melakukan bunuh diri.

Kebanyakan publik berasumsi bahwa penyebab kasus-kasus tadi adalah faktor psikis si anak yang lemah atau lingkungan yang mendukung terjadinya peristiwa itu. Satu hal yang jarang dieksplorasi dalam penelitian kaum hawa adalah aspek pembentukan seorang ibu.

Being a mother is not easy. Ibu yang tidak siap being a mom tidak akan mampu memberikan pengasuhan paripurna kepada anak-anaknya. Membentuk seorang ibu tidak diawali saat ia menginjak jenjang pernikahan, saat ia mengandung, atau saat ia melahirkan. Membentuk seorang ibu harus diawali, justru sejak ia dilahirkan. Perlakukan pra dan pascakelahiran, pendidikan moral maupun material yang mendukung, serta pendidikan etika sejak kecil selayaknya diarahkan pada persiapan seorang perempuan untuk survive di kehidupan dewasa kelak.

Kita dapat melihat bagaimana tingkah laku para ibu yang tidak sepatutnya dilakukan para ibu atau calon ibu yang terungkap di berbagai media. Ibu K dengan tanpa rasa malu berselingkuh di depan anaknya sendiri, padahal ia masih terikat perkawinan dengan suaminya. Ibu B berkali-kali tertangkap polisi karena terlibat kasus narkoba.

Ibu N menuntut suaminya untuk memenuhi "anggaran belanja" idealnya tanpa dapat melihat kondisi suaminya yang tidak beruntung. Ibu M berbusa-busa menyampaikan pembelaannya agar publik percaya bahwa ia tidak bersalah (meskipun hukum tidak berpihak dan menjatuhkan vonis kepadanya). Ibu R terpaksa menyakiti dan menghabisi nyawa anaknya karena tekanan ekonomi atau psikis. Ibu S mengeksploitasi sang anak demi pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Apa yang dapat kita simpulkan dari peristiwa itu? Jawaban yang saya berikan mungkin akan berbeda dari orang lain. Saya mendapati bahwa Ibu Ini atau Ibu Itu dalam beberapa kasus yang saya ungkapkan tadi menunjukkan ketidaksiapan menjadi seorang ibu.

Seorang calon ibu, menjelang pernikahan, kebanyakan menitikberatkan pada persiapan perkawinan yang bersifat material, seperti baju pengantin, konsep pernikahan, penentuan perias dan catering, dan sebagainya. Namun, persiapan penting yang nonmaterial jarang diangkat ke permukaan.

Satu ritual pranikah yang dihelat keluarga calon pengantin adalah, antara lain, pengajian. Namun, pengajian tersebut, dalam pandangan saya, hanyalah perhelatan yang digelar sebagai satu kewajiban pemenuhan tahapan ritus perkawinan. Semata-mata untuk menghindari ketidaknyamanan karena tidak melakukan satu ritual tertentu.

Apakah pengantin yang jelas-jelas kandidat seorang ibu mampu menangkap makna dari ritual itu? Yakinkah ia benar-benar siap setelah menjalani ritus sehari?

Miris hati saya jika melihat kasus kandidat ibu yang tersenyum lebar di pesta pernikahan. Apalagi di pesta pernikahan megah. Tidak dinyana, beberapa waktu kemudian, tersiar kabar bahwa ia memutuskan untuk pisah ranjang. Miris pula jika melihat banyaknya kandidat ibu yang rupawan dan bertubuh semampai terjerat cinta sesaat hanya karena si pangeran (terkadang penampilannya tidak meyakinkan) mempunyai modal untuk pemuasan materi. Kasus bidadari-bidadari (ala iklan parfum) yang terjerat vokalis Kangen Band semakin membuat miris nurani.

Kasus-kasus tadi cukup menjadi bukti bahwa pendidikan kandidat ibu menemui kegagalan. Tidakkah mereka mampu menangkap dengan mata hati bahwa hidup di dunia ini tidaklah mudah? Tidakkah mereka menyadari bahwa apa yang mereka arungi hanyalah sebuah hiperrealitas yang pada akhirnya hanya menyisakan kehampaan?

Tidakkah mereka merasa malu jika aib terungkap ke permukaan? Perempuan dengan perilaku tercela ibarat buah mangga ranum yang bonyok kulitnya? Tidakkah mereka sadari bahwa kelak buah perilaku tercela akan membuahkan bibit penerus kehidupan? Tidakkah mereka sadari jika ingin menghasilkan keturunan yang baik, mutlak diawali dengan awal yang baik?

Ketika dunia dihilangkan batas-batasnya, ketika manusia dapat saling menyapa ke pelosok-pelosok bumi, ketika nilai-nilai dengan mudah tercerabut dan tertanamkan di wilayah-wilayah tak terduga, nilai-nilai paradoks seolah menjadi jalan keluar atas kejenuhan pada nilai lokal yang dianggap mengekang. Kandidat ibu kini tak malu lagi mengumbar sensualitas di muka umum.

Tiada benteng nurani yang dapat menghalangi kandidat ibu dari perebutan pangeran di istana milik orang lain, semata demi pemenuhan materi. Ah, lagi-lagi terkait pendidikan. Tidak dapat dimungkiri bahwa dunia pendidikan, terlebih pendidikan kandidat ibu, sudah saatnya diperbaiki.

Oleh Nanang Qosim, GPAI dan BP SMA Negeri 15 Semarang